“Kehadiran kami bersama rombongan PCNU Bantaeng di Muktamar ke-35 ini merupakan bagian dari khidmah dan kecintaan kami kepada Nahdlatul Ulama. Kami datang dengan niat untuk ikut menyukseskan seluruh rangkaian Muktamar sekaligus membawa semangat dan aspirasi warga NU Bantaeng. Kami berharap Muktamar ini berlangsung lancar, tertib dan penuh ukhuwah, serta menghasilkan keputusan dan kepemimpinan terbaik yang mampu membawa NU semakin kuat dalam memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa dan negara,” tegasnya dari lokasi Muktamar.
Jalur laut sengaja dipilih bukan sekadar alternatif perjalanan, melainkan lambang kesederhanaan sekaligus keteguhan hati para pengurus. Asdar, S.Pd., S.H., M.M., Ketua PC GP Ansor Bantaeng, merinci kekuatan barisan yang berangkat: sepuluh orang dari jajaran PCNU, sepuluh orang dari GP Ansor, dan lima belas orang dari Fatayat NU — berjumlah tiga puluh lima jiwa penuh ketulusan.
“Kami berangkat menggunakan kapal laut, berlabuh dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar pada Selasa malam (25/08/2026) dan sandar di Tanjung Perak Surabaya pada Rabu malam (26/08/2026), selanjutnya via darat ke lokasi Muktamar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kami berjumlah 10 orang dari Kepengurusan PCNU Kabupaten Bantaeng, 10 orang dari Kepengurusan PC GP Ansor Bantaeng dan 15 orang dari Kepengurusan PC Fatayat NU Bantaeng, dengan niat tulus dan ikhlas menghadiri dan menyukseskan Muktamar ini,” ungkap Asdar melalui sambungan telepon, suaranya terdengar penuh semangat meski jarak jauh memisahkan.
Rangkaian agenda Muktamar ke-35 berjalan padat dan penuh bobot. Mulai dari pembukaan kenegaraan, sidang pleno nasional, sidang komisi pembahasan rekomendasi, hingga puncaknya pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Menjelang penetapan pimpinan baru, peta kandidat melebar dan dinamis. Nama-nama yang masuk dalam perbincangan antara lain: Gus Yahya, KH Marsudi Syuhud, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yusuf, Gus Salam, KH Zulfa Mustofa, hingga Prof. KH Nasaruddin Umar. Masing-masing memiliki basis dukungan dan rekam jejak pengabdian yang luas — dari jaringan struktural organisasi, lingkar pesantren tradisional, kalangan ulama hingga tokoh berpengalaman di ranah kebangsaan.
Bagi rombongan Bantaeng, kehadiran di Jombang bukan sekadar menyaksikan pergantian pimpinan. Lebih mendasar, mereka hadir untuk menjaga agar suara daerah tak hilang di riuh pusat. Aspirasi dari pelosok Sulawesi Selatan tetap mengalir deras ke meja musyawarah di tanah kelahiran organisasi. Semoga lima hari pertemuan ini melahirkan keputusan strategis yang memperkokoh persaudaraan, memperluas pengabdian, serta menjadikan Nahdlatul Ulama semakin relevan di tengah perubahan zaman — untuk kemaslahatan umat, keutuhan bangsa, dan kejayaan negara Indonesia tercinta.
(Izm/editor-MD).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.






